Dulu….
Banyak perpustakaan didirikan oleh umat Islam. Di kota Bagdad, ada
sekitar 36 perpustakaan. Semua orang bisa membaca ratusan ribu buku
yang tersedia di sana. Para ilmuwan yang bekerja di perpustakaan,
diberi emas seberat buku yang ditulisnya. Para pekerja perpustakaan
bukan cuma para ilmuwan muslim tetapi juga ilmuwan non-muslim.
Sayang sekali, semua itu tinggal kenangan. Banyak perpustakaan yang
sudah dihancurkan. Banyak buku dibakar atau dibuang ke sungai.

Buku-bukunya dari mana saja?
Khalifah Al-Makmun mengutus para ilmuwan Muslim ke kota Byzantium
untuk mengumpulkan berbagai macam buku ilmu pengetahuan. Kemudian,
buku itu dibawa ke Bagdad dan disimpan di Perpustakaan Baitul
Hikmah. Perpustakaan tersebut didirikan di Bagdad pada masa
pemerintahan Khalifah Al-Makmun. Perpustakaan tersebut menyediakan
ratusan ribu judul buku dengan berbagai tema.

Saat itu para ilmuwan hidup berkecukupan, karena khalifah
memberikan hadiah emas seberat buku yang ditulis oleh para ilmuwan.
Woow…
Rungan perpustakaan muslim dirancang sangat apik. Jika kita berada
di tengah rungannya, kita akan bisa melihat semua ruangan.
Perpustakaan juga dilengkapi ruangan terpisah untuk warraq, tukang
jilid, dan pustakawan. Konon perpustakaan Khazain Al-Qasu di Kairo
mempunyai 40 ruangan.

Dahulu, ribuan buku yang dipajang di perpustakan bukanlah hasil
cetakan mesin. Sebab, pada saat itu belum ada mesin cetak seperti
sekarang. Buku-buku itu ditulis langsung oleh seorang petugas yang
disebut warraq. Seorang warraq bisa menyalin ratusan halaman dalam
beberapa jam saja.

Pada 1258, bangsa Mongol menyerang kota Bagdad. Tiga puluh enam
perpustakaan yang ada di kota itu ikut hancur lebur. Buku-buku
dilemparkan ke Sungai Tigris. Penghancuran buku juga menimpa
Perpustakaan Kordoba di Spanyol. Banyak buku yang dibawa oleh Ratu
Isabella, yaitu penguasa yang merebut kota itu. Umat Islam merasa
sedih mengenang peristiwa itu….

Demikianlah sejarah yang digambarkan dengan apik di Ensiklopedi
Bocah Muslim jilid ke-6. Mengenal sejarah bukan berarti larut dalam
kenangan kejayaan masa lalu, tapi untuk bangkit berdiri dengan
kepala tegak sejajar dengan umat lain di masa kini, dan kembali
menjadi rahmatan lil’aalamiin, rahmat bagi semesta alam, bukan
beban dan bukan duri.

Itulah salah satunya yang memotivasi Mizan Dian Semesta kembali
mengangkat budaya cinta buku, dengan buku-buku eksklusif bermutu
tinggi, disusun dengan referensi orang-orang yang ahli di
bidangnya, mencoba membangun generasi unggul cinta ilmu
pengetahuan….karena buku adalah gudangnya ilmu….

Perpustakaan jangan jadi sejarah ah, sudahkah ada perpustakaan di
rumah Anda?

NB : dirikan perpustakaan di rumah Anda sekarang juga. Mizan Dian
Semesta lewat book advisornya siap menyediakan sumber bukunya :-) .

Untuk melihat contoh buku mizan dapat dilihat di sini

tulisan terkait
© 2012 cipta.web.id Suffusion theme by Sayontan Sinha