‘Ternyata, jadi orang tua itu susah ya

Aku baru satu hari aja sudah repot sekali

Gimana kalau ibu, mamah, yang tiap hari ngurusin aku,

nolongin aku dari bayi sampai segede ini?’

Cuplikan monolog Rani dari CD ayat akhlaq Rumah Qurani  terhadap orang tua ini, memang benar. Menjadi orang tua itu memang gampang-gampang susah. Apalagi mengajarkan Quran.
Hambatan yang mungkin timbul

1. Sulit mencari waktu bersama anak.

Ini hambatan nomer satu. Misal, ketika sakit dan masuk rumah sakit. Kebiasaan mengaji bersama bayi yang terputus karena ini, bisa jadi tidak bisa dikembalikan lagi. Kalau bekerja, masa gak bisa menyisihkan waktu untuk pulang lebih cepat untuk anak?

Tips mengatasinya: Mau tidak mau, suami harus menggantikan peran kita disini, bergantian. Kalau nggak bisa, diusahakan yang dititipi mengerjakannya. Tapi, usahakan setelah kita bisa, lakukan sendiri.

2. Suami/Istri tidak menjadi teladan dalam hal mengaji dan shalat.

Bisa jadi, ketika kita dan anak shalat, pasangan enggan shalat/sedang tidak shalat.

Tips mengatasinya :D iluar pendengaran/pengetahuan anak, bujuklah pasangan untuk shalat dan mengaji, meski cuma pura-pura didepan anak. Dengan rendah hati, katakanlah bahwa kita tidak bisa sendiri dalam mendidik, peran dia jauh lebih utama. Biarlah kita tidak sebaik yang dicita-citakan, tapi mudah-mudahan anak kita lebih baik dari kita, hingga bisa menjadi syafaat buat kita. Insyaallah ini akan menumbuhkan hidayah tersendiri.

3. Ada acara TV yang sangat menarik untuk anak di jam mengaji

tips mengatasinya: terpaksa kita mengalah dulu, pindahkan waktu mengaji, sampai kita bisa menghentikan seluruh keluarga menonton TV dengan berbagai alasan (dirusak aja TVnya..eh lho :P ..)

4. Ketergesa-gesaan.

Ketergesa-gesaan membuat keadaan jadi tak terencana, dan parahnya,sekali ketergesaan, bisa menghancurkan sebuah kebiasaan. Misal, tanpa bersiap-siap, kita mengajak anak kita shalat. Ketika dia menginginkan mukena dan sajadah, keduanya belum disiapkan, dan entah disimpan dimana. Kita sibuk mencarinya, sedangkan anak sudah mulai kesal dan tidak sabar, akhirnya dia menangis, dan kita stress. Gagallah acara shalat bersama anak, dan setelah itu, dia jadi enggan shalat sama-sekali.

Tips mengatasinya: Jangan tergesa-gesa. Untuk kasus contoh ini, belilah mukena yang persis sama dengan punya istri/punya kita, biar dia meniru. Shalatlah berjamaah didepan dia, (dengan mukena yang sudah siap pakai/sajadah yang siap pakai disimpan di samping kita) setiap hari, hingga lama-lama dia tertarik sendiri. Bila anak punya mainan kesukaan, jajarkanlah mainan itu di sajadah tersndiri, seolah mereka ikut shalat berjamaah.

5. Ketidaksabaran

ketidak sabaran bisa membuat kita jadi gampang marah pada anak, dan akhirnya anak jadi takut shalat/takut ngaji, bukannya semangat.

Tips mengatasinyaPerbanyaklah riyadhah pribadi, bila perlu, puasa daudlah.

6. Ketakutan/keminderan pribadi.

Sering kita minder bahwa kita tidak punya ilmu cukup untuk mengajari anak. Ketakutan ini sangat baik kok, tapi jangan jadi hambatan dalam mengajar anak.

Tips mengatasinya: yakinkanlah diri sendiri bahwa ini juga sarana untuk belajar. Perbanyaklah belajar quran, bahkan kalau perlu, ikutilah kelas belajar quran untuk memperbaiki bacaan.

7. Kemalasan dan kesombongan.

Kadang kita mengemukakan berbagai alasan bahwa kita tidak bisa mengajari anak al quran. Tapi sebenarnya terkadang yang ada dalam diri kita adalah keengganan, ketakaburan dan kemalasan.

Tips mengatasinya: Berargumenlah dengan diri kita sendiri, apakah kita dapat menjawab pertanyaan malaikat tentang kewajiban kita mengajari anak? apakah kita dapat menolong diri kita dengan amal kita pribadi, tanpa syafaat/pertolongan dari doa anak yang shaleh? Hitunglah amal kita secara kasar, dan bandingkan dengan dosa kita, dari besar sampai kecil. Kira-kira amalan kita berat kemana?

8. Kurang referensi

Di pelosok, atau di luar negeri, buku-buku penunjang seperti konkordansi quran, asbabun nuzul, tafsir, mungkin menjadi sesuatu yang sulit didapatkan. Pengajian juga sesuatu yang amat sulit dicari.

Tips mengatasinya: Saat ini ada internet yang bisa menjembatani jarak. Ada toko online, dan ada juga tafsir online. Silahkan dicari sendiri, hanya saja yang berbahasa indonesia mungkin agak sulit :) . Pengajian online juga ada.
Masalah yang mungkin timbul

1. Rutinitas terputus dan anak menjadi enggan.

Bila rutinitas terputus karena masalah-masalah kecil maupun besar, selama beberapa hari, atau bahkan minggu, atau bahkan bulan, memulainya lagi agak sulit, apalagi kalau ada kegiatan menarik yang menggantikan.

Tips mengatasinya: SABAR, sabar, sabar. Berdoalah pada Allah agar Ia menolong menyambungkan lagi kebaikan yang telah terputus. Ikuti flow anak, tapi, berilah contoh sebanyak-banyaknya pada dia. Shalatlah didekat dia, ngajilah didekat dia, meskipun dia sedang tidur. Terus ajak dia setiap hari, tapi bila dia enggan dan memaksa kita mengikuti kegiatan dia, ikuti saja.

2. Pernah memarahi dan memaksa anak waktu mengaji/mengajak shalat

Trauma karena dimarahi dapat membuat anak menjadi enggan shalat dan menolak mengaji.

Tips mengatasinya: Sabar (kata ini akan sering berulang). Mintalah maaf pada anak, dengan tulus. Katakan pada dia ‘dek, Makasih yah, sudah jadi anak yang baik buat ibu/bapak. ibu/bapak sayang banget sama adek. maafkan ibu/bapak yah, kemarin marah-marah. Ibu/bapak pengen banget Adek disayang Allah, pengen banget adek jadi anak baik. Tapi ibu/bapak nggak sabaran. Maafin ibu/bapak yah? Semoga, ibu/bapak bisa menjadi ibu/bapak yang paling baik buat adek, seperti adek juga jadi anak baik buat ibu sama bapak’. Terus beri contoh pada dia seperti tips diatas, tetapi jangan mengajak pada kesempatan pertama/kedua. ajaklah setelah suasana menjadi benar-benar dingin, misal setelah 1 minggu lebih. Bisa jadi masih gak mau setelah satu-dua bulan. Nggak apa-apa, bersabarlah terus, teruskan memberi teladan.

3. Ada acara/kegiatan lain yang amat menarik buat anak setiap saat mengaji

Biasanya ini karena kebiasaan menonton saat maghrib misalnya, atau semacam itu. mengubahnya adalah suatu tantangan yang beraat sekali.

Tips mengatasinyaBiarlah kita yang shalat dan mengaji didekat anak yang sedang nonton /bermain /beraktifitas, nanti saja pas bagian doa bersama, mintalah dia ikut berdoa.

Sebagai penutup dari tips ini, ketika kita bersama anak berhasil mengatasi masalah shalat dan mengaji yang terputus ini, keluarga kita layak mengadakan syukuran kecil-kecilan, bahkan layak diberi hadiah liburan bersama. Tentu dengan menyebutkan bahwa ini adalah reward dari berhasilnya kita mengatasi hambatan dan masalah bersama, dan kita berharap akan bisa melangsungkan kebiaasan baik ini seterusnya.

semoga bermanfaat

 

btw..saya lupa artikel ini ambil dari mana..

tulisan terkait

Leave a Reply

(required)

(required)


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 cipta.web.id Suffusion theme by Sayontan Sinha