Nuaim adalah seeoramg bocah yang bekerja mengembalakan unta-unta milik kabilahnya. Sertiap hari, dia menggiring belasan unta ke padang pengembalaan. Di sanan, dia membiarkan untu-unta itu makan rerumputan dan belukar yang hijau, serta minum pada mata air yang ada di lembah. Biasanya, dia membawa unta-unta itu pulang pada waktu sore. Ibu Nuaim selalu pergi memeriksa unta di belakang tenda, sehabis di gembalakan. Setelah itu, dia membawa dengan membawa panci besar penuh susu dan berkata pada Nuaim, “Terima kasih anakku, hari ini kau memilih tempat pengembalaan yang baik. Unta-unta itu makan rerumputan yang hijau dan segar sampai kenyang. Kau benar-benar seorang pengembala yang baik, Nuaim.” Pada lain waktu, Nuaim malas berjalan jauh. Dia tidak membawa unta-unta itu ke lembah subur yang banyak ditumbuhi rumput segar dan ada mata airnya. Karena lembah itu cukup jauh, dia cukup membawa mereka ke kebun korma terdekat dan mengikatnya di situ. Lalu, dia berlari menemui teman-temannya dan asyik bermain bersama mereka. Ketika dia kembali pada waktu sorenya, seperti biasa, ibunya akan melihat unta itu di belakang tenda, lalu kemabli sambil membawa panci tempat susu. Kali ini, dia memanggil anaknya dengan nada marah, “Nuaim, hari ini kerjamu main-main saja. Kau tidak mengembalakan unta sebagai mana mestinya. Kau malas dan lalai. Kau pantas di hukum.” Nuaim sangat sedih karena kemarahan ibunya. Dia berfikir dan berkata kepada dirinya sendiri, “Bagaimana mugkin ibuku selalu bisa mengetahui hal sebenarnya? Setiap hari ibu menjenguk unta di belakang tenda dan berada di sana sesaat lamanya. Laku, dia kembali mnegucapkan terima kasih kepadaku atau untuk memarahiku. Pasti, ada rahasia di balik ini semua. Di belakang tenda itu, tidak ada siapa-siapa selain unta. Pastilah, ia yang bercerita segala sesuatunya kepada ibu. Ia yang memberi tahu ibu apa yang aku kerjakan tiap hari. Tetapi…apakah ibu mnengerti bahasa unta? Ah, ini semua sungguh mengherankan.”
*********
Nuaim tidak tinggal diam. Dia membalas sakit hatinya pada unta itu. Dia tahu persis, apa yang membuat unta sedih. Unta itu memiliki seekor anak yang masih kecil. Untuk membalas sakit hatinya, Nuaim menyembunyikan anak unta unta itu. Unta itu pun sedih dan menangis. Ia tidak mau makan sampai anaknya dikembalikan. Suatu hari, datanglah dari kabilah lain. Ayah Nuaim ingin memuliakan mereka. Beliau memanggil Nuaim dan memintanya untuk mengambil anak unta agar di sembelih dan dibuat jamuan untuk tamu. Nuaim sangat sedih. Dia menangis dan berkata pada ayahnya, “Jangan Abi, biarkan unta kecil itu hidup. Aku menyayanginya dan tidak bisa berpisah dengannya. Kalau mau menyembelih, sembelih saja ibunya sebagai penggantiny. Ia pantas disembelih karena setiap hari melaporkan apa yang aku lakukan pada ibu, sehingga aku kena marah dan hukuman.” Dari dapur, ibu Nuaim mendengar perkataan anaknya itu. Dia lalu mendekati anaknya dan memeluknya seraya berkata, “Tidak anakkku, unta itu tidak bercerita apapun padaku. Namun, aku tahu yang sebenarnya kau lakukan setiap hari, dari susunya. Jika kamu benar-benar mengembalakannya dengan baik dan membawanya ke lembah yang ditumbuhi rerumputan dan tanaman yang hijau segar, kantong susunya akan penuh dan akan memberikan susu segar dan banyak pada kita. Akan tetapi, jika kau malas dan kau telantarkan, karena kau lebih suka bermain daripada mengembalakan unta di lembah yang subur, isi kantong susu unta itu akan berisi sedikit. Apakah sekarang kau faham anakku, bagaimana aku bisa mengetahui apa yang kau lakukan setiap hari?’ Nuaim tersenyum, “Ibu tidak menzalimiku. Akulah yang tidak berbuat baik pada unta dan aku menuduhnya yang tidak-tidak.” Sang ayah berkata, “Sekarang, cepat bawa unta kecil itu kemari, anakku! Kita akan menyembelih dan memasaknya untuk kita hidangkan pada tamu kita. Insya Allah. Induk unta itu akan melahirkan anak unta yang lebih baik dari sekarang.” Nuaim sangat sedih saat menggiring unta kecil kesayangannya utuk disembelih. Akan tetapi, dia tahu memuliakan tamu itu wajib. Dia pernah mendengar dari Syaikh Ahmad, guru ngajinya, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamunya.” Nuaim juga tahu, keluarganya harus ikut serta untuk menjaga nama kabilahnya. Nama kabilahnya harus tetap harum di antara kabilah-kabilah sekitarnya.





Komentar Komentator